Pergerakan perempuan di berbagai Negara islam terus mengalami
progress. Negara-negara tersebut misalnya Mesir, Turki dan Iran yang terus
mengumandangkan terpenuhinya hak-hak perempuan demi terciptanya
keadilan/kesetaraan gender. Seperti halnya di mesir, Pergerakan ini dimotori
oleh para intelektual mesir salah satunya adalah Qasim Amin.
Perjuangan-perjuangan mengenai kaum perempuan telah dikemukakan
juga oleh para tokoh sebelumnya, Muhammad Abduh misalnya. Ia mencita-citakan emansipasi
perempuan, menginginkan perempuan dapat menikmati hak-hak yang telah ditetapkan
islam. Ia sepakat, jika perempuan keluar gelanggang kehidupan bersama-sama
laki-laki membangun masyarakat. Maju mundurnya suatu masyarakat dapat diukur
dari sejauh mana kemajuan yang dicapai perempuan, jadi status perempuan
mencerminkan kemajuan suatu masyarakat.
Qasim Amin dalam misi mulianya pembebasan perempuan, telah menjadi
simbol dan teladan bagi gerakan emansipasi perempuan, pemikiran-pemikirannya
tentang pergerakan perempuan ia tuangkan dalam karya-karyanya yang cukup
fenomenal, diantaranya yaitu : Tahrir al-Mar’ah (pembebasan perempuan)
(1898) dan Al-Mar’ah al-Jadidah (perempuan baru) (1900). Dalam
perjalannanya karya-karya tersebut menimbulakan berbagai perdebatan dikalangan
tokokh-tokoh mesir saat itu. Permasalahan-permasalahan yang menimbulkan
perdebatan diantaranya mengenai hijab perempuan. Dalam permasalahan hijab,
Qasim Amin setuju dengan”hijab Syar’i” bagi perempuan , sebab syariat islam
membolehkan perempuan memperlihatkan sebagian anggota tubuhnya. Kemudian
mengenai seruan tentang pentingnya membatasi hak suami dalam hal gugatan cerai
(memutuskan pernikahan) sebab hak ini tidak bersifat mutlak hanya boleh
dilakukan dalam keadaan darurat. Yang terakhir yaitu tentang kritiknya terhadap
konsep aturan poligami dan seruannya untuk mengikat-batasi aturan-aturan itu
sejauh menurut teks-teks al-Quran dan sunnah nabi.
Dalam gerakan-gerakan serta pemikiran Qasim Amin tak lepas dari
kritik ataupun dukungan dari berbagai pihak, namun fakta menunjukkan bahwa
gerakan Qasim Amin menjadi landasan bagi gerakan-gerakan perempuan islam di
mesir, pemicu keluarnya perempuan untuk menuntut ilmu, bekerjanya perempuan
dengan ragam profesi, serta dapat berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan
sosial. Maka dari sini perempuan dapat mengambil kembali hak-haknya yang
dirampas.
Emansipasi wanita memang menjadi topik hangat di mesir sejak
dimulainya gerakan pembaharuan sosial yang dianjurkan Muhammad Abduh, yang
selanjutnya di lanjutkan oleh Qasim Amin sebagai seorang ahli hukum yang
cemerlang. Seperti kita ketahui Qasim Amin pada mulanya tidak memihak
emansipasi wanita bahkan sangat
menentangnya. Sejarah mengatakan, seorang wanita terkemuka yang sopan dan terpelajar, yaitu Puteri Nazil
Fadil, anak perempuan Mustafa Fadil yang perpustakan pribadinya menjadi inti perpustakaan
nasional mesir yang sekarang . pada tahun 1880, puteri tersebut membentuk
sebuah “salon intelektual” tempat dia menerima sarjana-sarjana dan pemimpin
politik seperti Al-Afghani, Abduh, Sa’ad Zaghlul, dan Qasim Amin. Diceritakan
dalam buku Charis Waddy “ Women in Muslim History” bahwa dia (Qasim
Amin) berbalik membela emansipasi wanita ketika darcourt, seorang hakim prancis
dalam pengadilan campuran di kairo, menerbitkan sebuah buku yang mengatakan
bahwa sebaba utama lambatnya perkembangan di mesir ialah karena adanya system
harem dan pencadaran kaum wanita. Qasim Amin menentang pendapatnya itu. Puteri Nazil
Fadil lalu mengundang dia kerumahnya, dan begitu mereka bertemu sang puteri
berhasil membelokkan pendiriannya sehingga berpihak pada kaum wanita. Sehingga
di kemudian hari dia menjadi pahlawan emansipasi wanita.
Bukan hanya sekedar hukum kedudukan kaum wanita saja yang dia
perjuangkan melainkan menyerukan suara renaissance (kelahiran kembali)
kaum wanita mesir seperti halnya yang tengah bergolak di dunia Arab. Kaum
wanita mempunyai hak dan kemampuan untuk berperan serta dalam perjuangan.
Kemudian untuk tujuan ini, ia mengabadikan keahlian hukumnya, bakat menulisnya,
dan tenaga emosinya yang melimpah. Seperti yang telah di singgung di atas bahwa
karya—karya yang membuat kemarahan pemimpin-pemimpin mesir tersebut menunjukkan
keintensitasan konflik antara islam dan konsep barat, “bukunya yang pertama
(emamsipasi wanita) berusaha membuktikan bahwa kebebasan kaum wanita adalah
maksud dari hukum syariat. Sedangkan
bukunya yang ke dua (wanita baru) tidak memperdulikan hukum syariat sama
sekali, dan mengambil konsep-konsep dari barat.
Melihat dari perjalanan gerakan Qasim Amin tentang perempuan di
mesir, menjadi tolok ukur pergerakan dan perjuangan wanita mesir selanjutnya
merupakan kesempatan bagi kaum wanita
untuk berperan dalam kehidupan sosial sebagaimana laki-laki, wanita juga
lebih memperoleh hak-haknya yang telah tertindas. Namun tetap yang namanya
perdebatan itu akan selalu ada, karena tidak setiap pemikiran atau gerakan
seseorang atau sekelompok orang dapat diterima begitu saja oleh masyrakat atau
kelompok-kelompok lain. Berdasar pada kasus Qasim Amin atas pemikirannya yang
cenderung mengambil konsep-konsep dari
barat dan sama sekali tidak memperdulikan hukum syariat dipandang sudah
keterlaluan dan melebihi batas aturan islam. Maka tidak heran jika pemikiran
tersebut masih jadi bahan perdebatan sampai sekarang ini.
Selanjutnya pergerakan perempuan di Iran pasca revolusi 1979,
runtuhnya rezim syah pahlevi mengantarkan kaum perempuan pada masa depan yang
lebih cerah. Pada masa pahlevi perempuan iran dibiarkan bodoh sehingga mereka
tidak paham politik dan tidak turut serta dalam mempertahankan Negara. Banyak
batasan yang memisahkan pria dan wanita dalam masyarakat, siswa laki-laki dan
perempuan dipisahkan dalam kelas-kelas pendidikan tinggi, siswa perempuan
dilarang dari 69 bidang studi, perempuan dilarang dari beberapa profesi,
seperti kelompok peradilan dan bernyanyi, perempuan dilarang dari disiplin
ilmu-ilmu tertentu di universitas-universitas, menolak perempuan menjadi hakim,
melarang perempuan berpartisipasi dalam olahraga dan tidak diizinkan menonton
laki-laki berolah raga. Semua ini berubah pasca revolusi iran denagn sang
revolusioner imam Khomeini.
gerakan-gerakan perempuan
iran merupakan kelanjutan dari keterlibatan mereka dalam organisasi perempuan.
Beberapa factor keterlibatan perempuan di Iran sebelum revolusi diantaranya
adalah (1) keterlibatan perempuan dalam melawan syah, berperan penting dalam
penumbangan dinasti syah pahlevi (2) keterlibatan kaum perempuan dalam kegiatan
bawah tanah melawan pasukan asing, (3) keterlibatan perempuan dalam pemboikotan
impor barang asing, mereka juga
berpartisipasi dalam pembongkaran sebuah bank rusia, dan pengumpulan dana untuk
membentuk bank nasional (5) gerakan perempuan dalam melawan UU Jilbab, demi
memperoleh hak sebagai muslimah. (6) gerakan perempuan menekan syah dalam
kesejahteraan dan pendidikan. Sebenarnya masih banyak gerakan –gerakan
perempuan tersebut.
pasca revolusi perempuan iran mempunyai ruang yang lebih luas untuk
merealisasikan bakatnya dan mendapatkan haknya sama seperti kaum laki-laki.
Bahkan Komeini sangat mengapresiasi terhadap peran perempuan di Iran. Sehingga
sampai sekarang di Iran posisi perempuan menempati lebih banyak dari pada
laki-laki dalam bidang pendidikan misalnya bidang kedoteran.
Gerakan
perempuan di Turki dimulai dari program revolusionernya Mustafa kemal Attaturk,
dia mulai perubahan di turki dalam banyak aspek, termasuk Emansiapsi untuk
perempuan. Seorang feminis, Judy Ayyildiz, memberikan pandangannya
bagaimana perempuan perempuan Turki berkontribusi pada upaya memodernkan Turki
dan apa yang diserukan olehAtatürk untuk kaum perempuan agar berdaya,
"Menangkan untuk kita semua perang dalam mendapatkan pendidikan dan kamu
akan melakukan lebih untuk negaramu dibandingkan apa yang pernah terjadi
sebelumnya." Ia juga mengemukakan pendapat untuk para pria dengan
mengatakan apabila dimasa depan perempuan tidak dapat berpartisipasi pada
kehidupan sosial suatu negara, kita tidak akan pernah mencapai kemajuan negara
sepenuhnya. Untuk Attaturk negara tanpa perempuan yang aktif akan menjadi
negara yang terbelakang, tidak mampu menangani syarat syarat kesetaraan yang
diterapkan pada peradaban di barat. Menurutnya Turki sebaiknya tetap menerapkan
jati dirinya, namun harus belajar dari barat apa yang dipersyaratkan agar dapat
menjadi orang yang maju. Untuk Attaturk perempuan menjadi kelompok korban yang
jelas tertekan oleh hukum hukum agama konservatif.
Demikianlah pergerakan
perjuangan perempuan di mesir, iran dan turki yang sama-sama mencari kehidupan
yang lebih baik, mendapatkan keadilan yang semestinya. Semua dilatarbelakangi
dari kebodohan Yang sengaja ditanamkan
oleh penguasa negeri untuk kepentingan politik masing-masing terutama di Iran.
Sumber Bacaan
:
Muhammad Anas,
Ja’far Qasim. Mengembalikan hak-hak politik perempuan : sebuah perspektif
islam, Jakarta : azan, 2001
Waddy, Charis. Wanita
dalam sejarah Islam. Jakarta :
pustaka jaya, 1987.
Tekeli, Sirin, women
in modern Turkish society, London : zed
Books 1991.
Kamaludin, M , Gerakan
Perempuan di Republic Islam Iran Pasca Revolusi 1979, SKRIPSI : FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA UIN JAKARTA 2011.
http// Wikipedia.
Mustafa kemal attaturk. Html..
0 komentar:
Posting Komentar