Dosen Pembimbing : Dra. Hj. Siti Nadroh, MA
Relasi Gender dalam Agama-Agama oleh, Epin Kurniasih

Sabtu, Desember 07, 2013

Perempuan dan Pembangunan

Posted by Unknown On 23.05 | No comments


Kualitas manusia sebagai penggerak bangsannya menjadi urgensi pokok yang wajib ada. Setiap bangsa yang maju tidak terlepas dari penduduknya yang berkualitas dan mempunyai peran untuk masing-masing bangsanya dalam memajukan kearah  yang lebih baik. Maka dari itu, kiranya wajib bagi setiap penduduk untuk mendapatkan pendidikan dan upaya peningkatan kualitas baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan fakta yang sudah umum, bahwa laki-laki telah menjadi ikon dalam kemajuan suatu Negara sehingga keberadaan dan peran mereka tidak dapat dipungkiri lagi. Permasalahannya adalah apakah peningkatan kualitas, status dan peran perempuan diupayakan oleh Negara?
Idealnya dalam suatu bangsa atau Negara peran laki-laki dan perempuan dimaksimalkan, dalam arti bangsa yang maju mengakui perlu ada peningkatan kualitas, status dan peran perempuan dalam pembangunan untuk meningkatkan keadilan sosial dan memenuhi hak-hak asasi manusia yang setara antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya peningkatan kualitas perempuan dilakukan untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan bagi bangsa.[1] Selanjutnya kenapa perempuan dan pembangunan ?, ini merupakan pendekatan pembangunan yang secara khusus ditunjukkan pada perempuan dengan tujuan agar perempuan bertutut serta dalam proses pembangunan secara selaras dan serasi sehingga tidak ada ketertinggalan dari laki-laki.
·         Pendekatan Woment in development (WID)
Pendekatan women in development (WID)[2] atau peningkatan peran wanita dalam pembangunan berpijak dari dua sasaran yaitu: pentingnya prinsip egalitarian dan menitikberatkan pada pengadaan program yang dapat mengurangi atau menghapuskan diskriminasi yang dialami oleh para perempuan di sektor produksi. Program-program yang dapat diterapkan untuk pelaksanaan pendekatan WID adalah yang dapat menghasilkan pendapatan bagi perempuan dan juga mendorong perempuan memasuki dunia pablik. Pendekatan WID dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan. Atas dasar itulah suatu pendekatan baru gender and development muncul sebagai suatu pendekatan yang sepenuhnya menggunanakan analists gender dan tidak menyalahkan korban ketidakadilan serta memberi perhatian pada idologi yang dianut oleh baik laki-laki maupun perempuan yang sangat berpengaruh dalam kebijakan pembangunan, yakni bias gender dalam pembangunan.[3]
Women In Development merupakan pemikiran dimana perempuan hanya penerima manfaat pembangnan yang pasif, seharusnya perempuan dalam proses ini juga ikut terlibat sebagai subjek yang aktif jika ingin menjadi pembangunan yang efesien dan efektif. Sehingga dapat dikatakab bahwa WID ini lebih menekankan pada kebutuhan praktis perempuan, seperti penciptaan lapangan kerja, program penigkatan pendapatan, penigkatan akses kredit dan pendidikan.
Pendekatan WID ini terdapat banyak kelemahan, sehingga dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan. Beberapa kelemahan strategi WID dibanyak Negara, yaitu perempuan termiskin malah menjadi miskin lagi, WID mengabaikan kepentinan laki-laki maupun perempuan, perempuan yang sering menduduki posisi kunci sering justru “bias laki-laki”, WID mengisolasi perempuan dari pelaku pembangunan lain (laki-laki), WID hanya  menekankann pemenuhan kebutuhan praktis sempurna.
Pendekatan WID        : Sumber masalah Perempuan
Fokus masalah             : -perempuan
                                     -Tidak berperan serta dalam pembangunan
Tujuan             : pembangunan lebih efektif dan efisien
Pemecahan      : mengintegrasikan perempuan dalam pembangunan
Strategi            : kegiatan meningkatkan produktivitas perempuan.
·         Pendekatan Women and development (WAD)
Pendekatan ini merupakan pendekatan feminis neo-marxis yang berpijak pada pandangan feminis yang kuat pada analisis klas sosial dan eksploitasi di negara dunia ketiga. Pendekatan ini berkembangan pada pertengahan 1970an, karena melihat keterbatasan dari modernisasi. Pendekatan ini bukan menitikberatkan pada strategi meningkatkan perempuan dalam pembangunan, justru menunjukan pentingnya perempuan dalam segala bidang, mislanya secara ekonomi, dan kerjanya yang dilakukan dalam rumah tangga dan komunitasnya sangat mendasarkan untuk mempertahankan masyarakat mereka. dapat disimpulkan bahwa WAD cenderung menitikberatkan pada kegiatan yang mendatangkan pendapat dan kurang mengindahkan tenaga perempuan yang disumbangkan dalam mempertahankan keluarga dan rumah tangga.[4]
Asumsi dasar dalam pendekatan Women and Development (WAD) yaitu bahwa perempuan sudah berpartisipasi aktif dalam pembangunan, kemudian WAD percaya bahwa di bawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak akn pernah berakhir. Kemudian kritik terhadap WAD yaitu dirasa gagal menganalisis secara penuh antara patriarki dan subordinasi perempuan, WAD telah menggiring kepada pergeseran dimana wanitasemakin produktif atas dasar korbanan sisireproduktif dari kerja dan kehidupannya.
·         Pendekatan Gender and Development (GAD)
Gender dan pembangunan merupakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan aspirasi, kepentingan dan peran laki-laki dan perempuan yang memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dari pria dan sebagai upaya mengubah hubungan gender yang merugikan salah satu pihak menuju gender yang selaras dan serasi.[5] GAD dikatakan juga adalah pendekatan terhadap kebijakan dan program pembangunan yang difokuskan atas dasar konstruksi sosial dari perbedaan perempuan dan laki-laki serta pentingnya upaya mempertanyakan kembali peran dan relasi gender.vPendekatan GAD muncul dari rasa kecewa atas lambannya kemajuan dari pendekatan WID bagi perubahan hidup perempuan dan dalam pengaruhnya bagi agenda pembangunan yang lebih besar.[6]
            Bagi strategi GAD letak persoalannya bukan pada Kaum Perempuan sebagaimana diasumsikan semula, melainkan bagaimana menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender. Berbeda dengan WID yang melahirkan proyek-proyek peningkatan peran perempuan seperti peningkatan penghasilan perempuan dan didirikannya kementrian peranan wanita.
Kalau boleh penulis simpulkan, catatan mengenai GAD adalah sebagai berikut :
pendekatan GAD        : Sumber masalah perempuan
fokus masalah              :  pola relasi laki-laki dan perempuan
Tujuan                         :  pembangunan yang adil dan berkesinambungan
Pemecahan                  : memperkuat perempuan yang marjinal
                                     Mengubah pola hubungan yang tidak sejajar; pemberdayaan
Strategi                        : kebutuhan praktis perempuan
                                     Kebutuhan Strategis perempuan


[1]Khofifah Indar Parawansa, Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran tentang Keserasian Gender, Pustaka LP3S Indonesia : Jakarta, cet 1, 2006.
[2] Pendekatan ini muncul pada awal 1970an dengan dasar pemikiran yang berasal dari pemikiran feminist ‘liberal’ secara khusus dari Amerika Utara .
[4]Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembangunan, Yogyakarta : Rifka Annisa Women Crisis Center. 1996, hal. 208-209
[5]Khofifah Indar Parawansa, Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran tentang Keserasian Gender, Pustaka LP3S Indonesia : Jakarta, cet 1, 2006.

0 komentar:

Posting Komentar

About

  • Artikel
  • E-Book