Kualitas manusia sebagai penggerak
bangsannya menjadi urgensi pokok yang wajib ada. Setiap bangsa yang maju tidak
terlepas dari penduduknya yang berkualitas dan mempunyai peran untuk
masing-masing bangsanya dalam memajukan kearah yang lebih baik. Maka dari itu, kiranya wajib
bagi setiap penduduk untuk mendapatkan pendidikan dan upaya peningkatan
kualitas baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan fakta yang sudah umum,
bahwa laki-laki telah menjadi ikon dalam kemajuan suatu Negara sehingga
keberadaan dan peran mereka tidak dapat dipungkiri lagi. Permasalahannya adalah
apakah peningkatan kualitas, status dan peran perempuan diupayakan oleh Negara?
Idealnya dalam suatu bangsa atau
Negara peran laki-laki dan perempuan dimaksimalkan, dalam arti bangsa yang maju
mengakui perlu ada peningkatan kualitas, status dan peran perempuan dalam
pembangunan untuk meningkatkan keadilan sosial dan memenuhi hak-hak asasi
manusia yang setara antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya peningkatan
kualitas perempuan dilakukan untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan
bagi bangsa.[1]
Selanjutnya kenapa perempuan dan pembangunan ?, ini merupakan pendekatan
pembangunan yang secara khusus ditunjukkan pada perempuan dengan tujuan agar
perempuan bertutut serta dalam proses pembangunan secara selaras dan serasi
sehingga tidak ada ketertinggalan dari laki-laki.
·
Pendekatan
Woment in development (WID)
Pendekatan women in development
(WID)[2]
atau peningkatan peran wanita dalam pembangunan berpijak dari dua sasaran
yaitu: pentingnya prinsip egalitarian dan menitikberatkan pada pengadaan
program yang dapat mengurangi atau menghapuskan diskriminasi yang dialami oleh
para perempuan di sektor produksi. Program-program yang dapat diterapkan untuk
pelaksanaan pendekatan WID adalah yang dapat menghasilkan pendapatan bagi
perempuan dan juga mendorong perempuan memasuki dunia pablik. Pendekatan WID
dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan dari diskriminasi dan
ketidakadilan. Atas dasar itulah suatu pendekatan baru gender and development
muncul sebagai suatu pendekatan yang sepenuhnya menggunanakan analists gender
dan tidak menyalahkan korban ketidakadilan serta memberi perhatian pada idologi
yang dianut oleh baik laki-laki maupun perempuan yang sangat berpengaruh dalam
kebijakan pembangunan, yakni bias gender dalam pembangunan.[3]
Women In Development merupakan
pemikiran dimana perempuan hanya penerima manfaat pembangnan yang pasif,
seharusnya perempuan dalam proses ini juga ikut terlibat sebagai subjek yang
aktif jika ingin menjadi pembangunan yang efesien dan efektif. Sehingga dapat
dikatakab bahwa WID ini lebih menekankan pada kebutuhan praktis perempuan, seperti
penciptaan lapangan kerja, program penigkatan pendapatan, penigkatan akses
kredit dan pendidikan.
Pendekatan WID ini terdapat banyak
kelemahan, sehingga dianggap mengalami kegagalan dalam membebaskan perempuan
dari diskriminasi dan ketidakadilan. Beberapa kelemahan strategi WID dibanyak
Negara, yaitu perempuan termiskin malah menjadi miskin lagi, WID mengabaikan
kepentinan laki-laki maupun perempuan, perempuan yang sering menduduki posisi
kunci sering justru “bias laki-laki”, WID mengisolasi perempuan dari pelaku
pembangunan lain (laki-laki), WID hanya
menekankann pemenuhan kebutuhan praktis sempurna.
Pendekatan WID : Sumber
masalah Perempuan
Fokus masalah :
-perempuan
-Tidak berperan serta dalam pembangunan
Tujuan :
pembangunan lebih efektif dan efisien
Pemecahan :
mengintegrasikan perempuan dalam pembangunan
Strategi : kegiatan
meningkatkan produktivitas perempuan.
·
Pendekatan
Women and development (WAD)
Pendekatan ini merupakan pendekatan feminis neo-marxis yang berpijak pada pandangan feminis yang kuat pada analisis klas sosial
dan eksploitasi di negara dunia ketiga. Pendekatan ini berkembangan pada
pertengahan 1970an, karena melihat keterbatasan dari modernisasi. Pendekatan
ini bukan menitikberatkan pada strategi meningkatkan perempuan dalam pembangunan,
justru menunjukan pentingnya perempuan dalam segala bidang, mislanya secara
ekonomi, dan kerjanya yang dilakukan dalam rumah tangga dan komunitasnya sangat
mendasarkan untuk mempertahankan masyarakat mereka. dapat disimpulkan bahwa WAD
cenderung menitikberatkan pada kegiatan yang mendatangkan pendapat dan kurang
mengindahkan tenaga perempuan yang disumbangkan dalam mempertahankan keluarga
dan rumah tangga.[4]
Asumsi dasar dalam pendekatan Women and Development (WAD) yaitu
bahwa perempuan sudah berpartisipasi aktif dalam pembangunan, kemudian WAD
percaya bahwa di bawah kapitalisme global, penekanan terhadap perempuan tidak
akn pernah berakhir. Kemudian kritik terhadap WAD yaitu dirasa gagal
menganalisis secara penuh antara patriarki dan subordinasi perempuan, WAD telah
menggiring kepada pergeseran dimana wanitasemakin produktif atas dasar korbanan
sisireproduktif dari kerja dan kehidupannya.
·
Pendekatan
Gender and Development (GAD)
Gender dan pembangunan merupakan pendekatan pembangunan yang
mengintegrasikan aspirasi, kepentingan dan peran laki-laki dan perempuan yang
memungkinkan perempuan mengejar ketinggalannya dari pria dan sebagai upaya
mengubah hubungan gender yang merugikan salah satu pihak menuju gender yang
selaras dan serasi.[5]
GAD dikatakan juga adalah pendekatan terhadap kebijakan dan
program pembangunan yang difokuskan atas dasar konstruksi sosial dari perbedaan
perempuan dan laki-laki serta pentingnya upaya mempertanyakan kembali peran dan
relasi gender.vPendekatan GAD muncul dari rasa kecewa atas lambannya kemajuan
dari pendekatan WID bagi perubahan hidup perempuan dan dalam pengaruhnya bagi
agenda pembangunan yang lebih besar.[6]
Bagi strategi GAD letak persoalannya
bukan pada Kaum Perempuan sebagaimana diasumsikan semula, melainkan bagaimana
menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender. Berbeda
dengan WID yang melahirkan proyek-proyek peningkatan peran perempuan seperti
peningkatan penghasilan perempuan dan didirikannya kementrian peranan wanita.
Kalau boleh penulis simpulkan, catatan mengenai GAD adalah sebagai
berikut :
pendekatan
GAD : Sumber masalah perempuan
fokus
masalah : pola
relasi laki-laki dan perempuan
Tujuan : pembangunan yang adil dan berkesinambungan
Pemecahan : memperkuat perempuan yang
marjinal
Mengubah pola hubungan yang tidak sejajar;
pemberdayaan
Strategi : kebutuhan praktis
perempuan
Kebutuhan Strategis perempuan
[1]Khofifah Indar
Parawansa, Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran tentang Keserasian
Gender, Pustaka LP3S Indonesia : Jakarta, cet 1, 2006.
[2]
Pendekatan ini muncul pada awal 1970an dengan dasar
pemikiran yang berasal dari pemikiran feminist ‘liberal’ secara khusus dari
Amerika Utara .
[3]
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=51942&idc=45.
Diakses pada tanggal 08 desember 2013.
[4]Julia Cleves
Mosse, Gender dan Pembangunan, Yogyakarta : Rifka Annisa Women Crisis
Center. 1996, hal. 208-209
[5]Khofifah Indar
Parawansa, Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran tentang Keserasian
Gender, Pustaka LP3S Indonesia : Jakarta, cet 1, 2006.
[6]
http://genderpedia.blogspot.com/2010/08/pendekatan-wid-dan-gad.html.
diakses pada tanggal 08 desember 2013.
0 komentar:
Posting Komentar