Dosen Pembimbing : Dra. Hj. Siti Nadroh, MA
Relasi Gender dalam Agama-Agama oleh, Epin Kurniasih

Sabtu, Desember 07, 2013

Di Indonesia, perempuan memiliki banyak andil juga di ruang publik, dari dulu hingga sekarang. Dari zaman colonial hingga sekarang era reformasi. Setidaknya citra perempuan di Indonesia sedikit terangkat dengan adanya para tokoh perempuan yang mampu sejajar dengan laki-laki saat itu. Tokoh-tokoh perempuan Indonesia memang banyak, namun yang cukup berpengaruh bisa di hitung jari. Ini sebagaimana pencatatan sejarah mengenai kisah mereka. Karena pencatatan itu lah yang bisa kita konsumsi saat iniuntuk mengetahui kejadian di masa lalu, khususnya tokoh masa lalu. 

Tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang berpengaruh diantaranya, cut nyak dien, cut meutia, raden ajeng kartini, dewi sartika, maria walanda waramis, Martha Christina Tiahahu, nyai dahlan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Berikut ini akan di bahas secara deskripsi namun tidak mendalam mengenai peran mereka sebagai tokoh perempuan Indonesia. 

1. Cut Nyak Dien

Tokoh yang satu ini sangat gigih dalam menghadapi para penjajah belanda saat itu. Beliau lahir pada tahun 1848 di kerajaan Aceh, dan beliau meninggal di daerah pengasingannya Sumedang, jawa barat pada tanggal 6 november 1908. Karena keberaniannya melawan penjajah belanda pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan nasional Indonesia. 

Pada saat Aceh diserang belanda, suami cut nyak dien yang turun ke medan pertempuran gugur. Ibrahim Lamnga suami cut nyak dien wafat pada tanggal 29 juni 1878. Ini lah titik dimana cut nyak dien berikar tidak akan berhenti memperjuangkan aceh dan menghancurkan belanda. Dua tahun setelah meninggalnya suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Teuku Umar adalah seorang pejuang yang terkenal banyak taktik. Pada tahun 1893 Teuku Umar pernah melakukan kerja sama dengan Belanda hanya untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama, Teuku Umar berbalik memerangi Belanda. Akan tetapi, dalam sebuah pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur.

Meskipun tanpa dukungan suami, semangat cut nyak dien tidak pernah surut. Dia terus melanjutkan perjuangan di meulaboh, namun belanda merasa keberadan cut nyak dien mengancam belanda. Sehingga cut nyak dien selalu berusaha di tangkap. Namun selalu gagal. Semakin menuanya usia cut nyak dien penyakit pun kerap ia rasakan, pengelihatannya mulai rabun, pasukannya pun berkurang bahkan makanan sulit diperoleh. sehingga salah satu anak buahnya merasa iba. Paglima yang bernama pang laot menghubungi belanda tanpa sepengetahuan cut nyak dien, dengan maksud supaya cut nyak dien tentram di hari tuanya meskipun dalam pengawasan belanda.

Karena keteguhannya, sudah berhasil dikepung oleh belanda pun cut nyak dien tidak mau menyerah sehingga sempat mengambil rencog namun akhirnya tertangkap juga. Di bawa ke banda aceh, kemudian di buang ke sumedang dan akhirnya meninggal disana. Baru pada tahun 1959 makamnya ditemukan. Soekarno menganugerahinya sebagai pahlawan nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964. 

2. Raden Ajeng Kartini

R.A Kartini lagir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara, pahlawan nasional yang lahir dari kalangan Priayi kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara, dan keturunannya pernah di telusuri bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Sri Sultan Hangkubowono IV. Anak ke – 5 dari 11 bersaudara ini memperjuangkan pendidikan gratis di daerah Jepara dan Rembang yang dikhususkan untuk para kaum putri yang ada pada saat itu.

Peran kartini sebagai puteri Indonesia merupakan hal yang sangat positif, dimana ia memperjuangkan hak-hak atas kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Bahwa pendidikan tidak hanya dimiliki oleh laki-laki, namun perempuan juga berhak mendapatkannya. Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Kartini menikah dengan dijodohkan oleh ibunya. Bahkan setelah menikahpun ia tetap memperjuangkan keinginan nya mengangkat derajat kaum wanita. Ia sering surat menyurat dengan sahabat-sahabatnya di eropa mengenai cita-citanya tersebut, dan membicarakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Setelah wafatnya kartini, surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan. Kemudian diterbitkan dalam bahasa belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya. Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.[1]

3. DewiSartika

Dewi sartika lahir di bandung pada tanggal 4 desember 1884. Beliau meninggal di Tasikmalaya 11 september 1947 dalam usia 62 tahun. Beliau merupakan tokoh perintis pendidikan perempuan. Dan diakui sebagai pahlawan nasional pada Tahun 1966. dewi sartika lahir dikalangan keluarga priyayi sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.[2]

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Betapa besar jasa para tokoh perempuan Indonesia dalam memajukan bangsa ini, sepatutnyalah kita menghagai jerih payah mereka dengan cinta tanah air dan belajar sungguh-sungguh seningga apa yang mereka cita-citakan untuk negeri ini tersampaikan oleh kita sebagai generasi penerus. Masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan Indonesia, namun yang di bahas di atas hanya sebagianya. 


Daftar Referensi


---------Album Pahlawan Bangsa Cetakan ke 18, penerbit PT Mutiara Sumber Widya.
Solichin Salam, wajah-wajah Nasional, cetakan pertama -------------------------------------


Suryanto Sastroatmojo, Tragedi Kartini, Yogyakarta, 2005-------------------------


blogdetik.com/files/2011/03/inta-kristianti.diakses pada tanggal 07 desember 2013.


webzoom.freewebs.com/skks/Dewi%20Sartika diakses pada tanggal 07 desmber 2013.














[1] blogdetik.com/files/2011/03/inta-kristianti.diakses pada tanggal 07 desember 2013.


[2] webzoom.freewebs.com/skks/Dewi%20Sartika diakses pada tanggal 07 desmber 2013.

0 komentar:

Posting Komentar

About

  • Artikel
  • E-Book